Jak Japan Matsuri 2010

Jak – Japan Matsuri

Ketika budaya menjadi jembatan persahabatan antar dua negara

Budaya adalah salah satu unsur dari suatu bangsa yang dapat mempererat tali persahabatang dengan bangsa lain. Melalui budaya, suatu bangsa dapat memperkenalkan suatu bangsa dengan bangsa lain sehingga kedua Negara dapat mempererat tali persahabatan mereka

Tanggal 26 September hingga 03 Oktober 2010 kemarin. JJM (Jak Japan Matsuri) kembali diadakan untuk kedua kalinya. Acara yang diadakan berkat kerjasama antara Kedutaan besar Jepan dengan pemereintah Kota DKI Jakarta ini sekaligus menjadi perayaan 50 tahun hubungan diplomatic Indoseia dengan Jepang.

Para peserta dan panitia JJM tetap bersemangat walau hari itu lapangan tengah banjir karena hujan deras

Matsuri sendiri berarti festival atau perayaan dalam bahasa Jepang. Acara Jak Japan Matsuri 2010 beberapa tempat. Didalam matsuri ini banyak acara-acara yang sangat menarik, terutama saat hari penutupan acara Jak Japan Matsuri 2010 yang berlangsung di lapangan selatan Monas ini sangat ramai oleh mereka yang memang sudah menantikan acara ini atau para warga yang ingin sekedar melihat-lihat. Acara yang baru dimulai pukul 12.00 itu sudah ramai oleh pengunjung sejak pukul 10.00, acara dimulai dengan opening yang merupakan sambutan dari Shiojiri Kojiro, bersama Ketua Panitia JJM 2010 dilanjutkan oleh berbagai acara pertunjukan kebudayaan oleh kedua Negara (Indonesia–Japan). Dari mulai Taiko (pertunjukan menabuh drum), tarian-tarian tradisional Jepang dan kolaborasi tarian Indonesia-Jepang, pertunjukan music, drama, cosplay, dll. Disamping acara-acara tersebut, dilokasi pun banyak stand-stand yang menjual berbagai barang khas kedua Negara, dari mulai pakaian, jajanan khas masing-masing, hingga stand para sponsor yang menjajahkan barang mereka. Walau pun pada saat acara berlangsung hujan turun dengan deras, namun itu tidak menjadi kendala untuk para pengunjung dalam menikati acara. Acara ditutup dengan Bon-Odori dan pesta kembang api. Dengan diadakannya acara semacam ini, diharapkan warga kedua Negara dapat saling mempererat persahabatan kedua Negara.

Perfect Give

“Tolong ya.”

“Aku pergi dulu.”

“Hey!”

Belum ada beberapa langkah, pemuda itu berbalik lagi. “Apa lagi?”

Gadis itu menghampiri, “Jangan lupa ucapkan salamku untuknya.”

“Mmm.” .”Ada lagi?”

“Tidak ada.” Jawab sang gadis sambil tersenyum.

“Kalau begitu aku…”

Pemuda itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat ia merasa sepasang bibir dengan lembut mengecup pipinya.

“Ongkos kirimnya.” . “Ja.” ucap sang gadis sambil berlalu.

“Dasar, kau itu.” sang pemuda kemudian berlalu. Namun sebuah senyuman manis terukir diwajahnya.

 

“Permisi.”

“Ah, Kuchiki-san. Silahkan masuk.”

“Anda memanggil saya Taicho?” Jawab Rukia.

“Kuchiki-san, bisakah kau menyerahkan file-file ini kepada Hitsugaya Taicho?”. “Tadinya aku hendak menyuruh Sentarou, tapi dia sedang tidak ada ditempat.”

“Ah, baiklah Taicho.”

Rukia pun berjalan menuju divisi 10, sesampainya disana ia langsung menuju ruang kerja Hitsugaya Taicho.

“Hitsugaya Taicho, anda ada didalam?” Panggil Rukia.

“Siang Rukia-chan.” Panggil seseorang sambil menepuk bahu Rukia.

Rukia menoleh, “Matsumoto-fukutaicho.”

“Tidak seformal itu Rukia-chan.”

“Maaf Rangiku-san.”

“Ngomong-ngomong ada apa kau mencari Taicho?” . ” Taicho sedang pergi.”

“Oh, aku dititipi ini oleh Taicho-ku.” Jawab Rukia sambil memperlihatkan apa yang sedari tadi ia bawa.

“Masuk saja kalau begitu.”

“Tapi…”

“Sudahlah, ayo masuk.” Bujuk Rangiku sambil membuka pintu. “Letakan saja dimeja Taicho.”

Rukia pun meletakan file-file yang ia bawa, ‘Fuh, akhirnya. Ternyata berat juga file-file itu.’ bantin rukia.

“Kau mau minum Rukia?” Tawar Rangiku.

“Tidak usa…” Rukia kaget dengan apa yang ditawarkan oleh Fukutaicho divisi 10 itu.

“Rangiku-san. Ano…”

“Mmm?”

“Apa tidak apa kau minum disiang hari?”

“Tenang saja Rukia, Taicho tidak akan tahu jika aku hanya minum sedikit.” Jawabnya terkekeh.

Rukia tidak menjawab, ia hanya terheran bagaimana Rangiku dengan segitu entengnya berkata seperti itu. Bukankah Hitsugaya Taicho itu orang yang tegas? Ya, walau Nii-sama nya jauh lebih tegas. Tapi ini.

‘Lagi pula dari mana Rangiku-san bisa mendapatkan bolot sake itu? rasanya sewaktu masuk ruangan ini dia belum memegang botol itu.’ Batin Rukia.

“Apanya yang tidak akan aku tahu?” Terdengar suara dengan nada begitu dingin saat pintu diruangan itu terbuka.

“Hitsugaya Taicho”

“Taicho…” ucap Rangiku dan Rukia bersamaan.

“Apa yang sedang kau lakukan Matsumoto?” Tanya Hitsugaya dingin.

“Ano… Taicho, aku…”Jawab Rangiku terbata-bata.

“Segera kerjakan tugasmu dan kau tidak boleh meninggalkan tempatmu sampai semua tugasmu selesai, atau…”

“Atau apa Taicho?”

“Aku akan membuang semua persediaan sake mu yang kau sembunyikan diruanganku ini.” Ancam Hitsugaya.

“Taicho, kau kejam sekali mengancam fukutaicho-Mu yang manis ini!” gerutu Rangiku.

“Kerjakan sekarang atau aku benar-benar…”

“Hyyyiiiaaa…” Rangiku langsung berlari keluar.

Rukia yang menyaksikan kejadian itu sebenarnya ingin sekali tertawa melihat tingkah Taicho dan fukutaicho divisi 10 ini, tapi berhubung itu tidak sopan, Rukia hanya bisa tersenyum sambil menahan tawanya.

“Ada perlu apa Kuchiki?” Tanya Hitsugaya tanpa basa-basi.

“Ano, aku mengantarkan file-file dari Ukitake Taicho.”

Hitsugaya hanya menggangguk. Merasa sudah tidak ada perlu ditempat itu, Rukia permisi hendak kembali ke divisinya.

“Kalau begitu, saya permisi dulu Hitsugaya Taicho.” Pamit Rukia.

“Tunggu dulu.”

Rukia heran kenapa sang chibi Taicho itu mencegahnya pergi. Dilihatnya Hitsugaya Taicho sedang membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak.

“Titipan untukmu.” Ucap Hitsugaya datar.

Rukia hanya bisa memiringkan kepalanya, tanda kalau ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Hitsugaya Taicho memberikan kotak yang ternyata adalah sebuah kado kepadanya. Bukankah ulang tahunnya sudah lewat beberapa hari yang lalu? Lalu ia bilang kalau kado itu adalah titipan, tapi dari siapa? Semua teman-temannya sudah memberikan selamat dan kado untuknya. Lalu kado yang ia terima dari Hitsugaya Taicho itu dari siapa?

“Ano…”

“Kau bisa pergi sekarang.”

Tahu kalau ia tidak akan mendapatkan jawaban dari Hitsugaya Taicho, Rukia memilih bungkam dan meninggalkan ruangan itu, saat hendak menutup pintu.

“Satu hal lagi Kuchiki.”. “Happy late birthday.”

Mendengar perkataan itu membuat Rukia tersenyum. “Arigatou na, Hitsugaya Taicho.”

 

Rukia melangkahkan kakinya dengan hati riang. Dipeluknya kado itu dengan erat, entah mengapa hatinya merasa kalau kado ini adalah benda yang sangat berarti untuknya. Raut wajah Rukia yang begitu sumeringah membuat para shinigami yang melihatnya merasa heran. Tanpa mempedulikan tatapan aneh dari para shinigami yang lain, Rukia langsung menuju ruang kerjanya. Sesampainya Rukia langsung duduk dimeja kerjanya, dibukanya perlahan bungkus kado yg berwarna putih dengan motif Kristal salju nan timbul dan terasa saat disentuh.

Betapa terkejutnya Rukia saat dia melihat isi dari kado tersebut, sebuah kotak berisikan I-Pod nano dan secarik surat. Dibacanya surat itu.

Dear : Rukia-Nee

Apa kabar Rukia-nee? Maaf aku tidak terlalu pandai dalam berbasa-basi (sepertiya itu sudah menurun dari si bodoh itu (a/n: Ichigo)). Pertama-tama, ” Otanjoubi omedetou Rukia-nee.”. Jangan Tanya dari mana kami tahu tanggal ulang tahunmu, si bodoh itu tanpa sengaja mengucapkannya beberapa waktu lalu. Kau harus lihat tampang bodohnya saat tiba-tiba Goat-chin menghujaninya dengan berbagai pertanyaan mengenai dirimu.

Oh ya, ini adalah hadiah dari kami, tapi Ichi-nii tidak tahu akan hal ini. Semua ini adalah rencana Yuzu, lalu Goat-chin membelikanmu I-Pod ini (setelah perdebatan panjang tentang apa yang akan kami berikan padamu) dan akulah yang mengerjakan sisanya. Didalam I-Pod ini hanya berisikan 2 buah rekaman. Karena aku tidak tahu music apa yang harus masukan, maka aku membiarkannya seperti ini. Kau dapat mengisinya sesukamu.

Kapan-kapan mampirlah jika kau sedang bertugas ke Karakura, kami semua merindukanmu.

Karin,

Tanpa terasa airmata Rukia menetes, ia bahkan tidak tahu sejak kapan ia mulai menangis. Tapi tangisan ini adalah tangis bahagia. Ya, Rukia merasa bahagia karena keluarga kurosaki masih peduli terhadapnya, mereka merindukannya, bahkan sampai memberikan kado ulang tahun untuknya.

Diambilnya I-Pod tersebut lalu ia nyalakan. Memang hanya ada 2 rekaman didalamnya. Yang pertama iyalah ucapan selamat ulang tahun dari Ishiin, Yuzu, Dan Karin. Sebenarnya Rukia agak kecewa saat mengetahui kalau Ichigo tidak mengucapkan selamat padanya. Lalu pada rekaman selanjutnya terdengarlah alunan suara gitar.

Words get trapped in my mind

Sorry i don’t take the time to feel the way I do

Cause the first day you came into my life

My time ticks around you

But then i need your voice

As the key to unlock all the love trapped in me

So tell me when it’s time to say i love you

All i want is you to understand

That when i take your hand

It’s ’cause i want to

We are all born in a world of doubt

But there’s no doubt

I figured out I love you

I feel lonely for

All the losers that were meant to take the time to say,

What was really on their mind instead?

They just hide away

Yet they’ll never have

Someone like you to guide them

And help along the way.

Or tell them when it’s time to say I love you

So tell me when it’s time to say I love you

Siapa sangka kalau Ichigo yang keras kepala itu bisa menyanyikan lagu yang begitu menyentuh. Tak lama terdengar lagi suara.

Sejak kapan kau ada disitu?”

Sejak awal, lagunya bagus. Kau yang buat Ichi-nii?”

Ini bukan pertama kalinya kau mendengarku menyanyikan lagu ini kan?”

Rukia tersenyum. Ia tahu dengan pasti saat itu Ichigo sedang menyeringai. Tanpa perlu melihat wajah Ichigo, Rukia sudah hafal dengan nada dan gaya bicara Ichigo.

Untuk siapa lagu itu?”

Hening, tiada suara sesaat.

Untuk Rukia-nee kan?”

A..apa maksudmu Karin?”. “Untuk apa pula aku membuatkan lagu untuk si midget itu?” jawab Ichigo terbata.

Sebenarnya saat itu Rukia langsung ingin men-stop rekaman itu. Walau sudah lama tak bertemu, Ichigo masih saja memanggilnya midget dan membuat Rukia jengkel. Tapi rasa penasaran Rukia lebih besar sehingga ia kembali mendengarkan sisa rekaman itu.

Kau tidak perlu berbohong padaku Ichi-nii, aku tahu kau sangat merindukannya.”. “Karena sejak Rukia-nee pergi kau bahkan semakin menyebalkan.”

Apa maksudmu?”

Sejak Rukia-nee datang, setidaknya kau bisa tersenyum, tapi bukan senyum palsu yang biasa kau berikan keorang lain. Kau tersenyum dari hatimu, senyum yang bahkan keluargamu ini tidak pernah kau berikan sejak kematian ibu.” Jawab Karin lirih.

Karin…”

Kau tahu Ichi-nii, pada awalnya aku tidak terlau menyukainya karena dia seakan mencurimu dari kami, karena kau selalu saja lebih banyak menghabiskan waktu dengannya.”. “Tapi itu sebelum aku sadar kalau kau berubah Ichi-nii.”. “Kau menjadi lebih bahagia setiap kali kau bersamanya, kau menjadi Ichi-nii yang dulu. Dan untuk itu aku bersyukur dia datang.”

Mendengar Karin berkata seperti itu sungguh sangat mengejutkan Rukia, ia tidak pernah berpikir kalau Karin akan berkata seperti itu. Rasa haru menyerauk kedalam hati Rukia, baginya adanya oarng yang bersyukur atas kehadirannya sudah membuat ia kehabisan kata.

Lalu sekarang kau kembali menyebalkan setelah kepergian Rukia-nee.”. “Kalau kau begitu tidak bisa tanpa Rukia-nee, kenapa kau tidak membawanya kembali?” Gerutu Karin

Seperti bukan dirimu saja untuk menyerah pada hal kecil seperti ini.” Ledeknya lagi.

Kau tidak tahu apa-apa.”Bisik Ichigo.

Sudahlah, cukup dengan segala hal melankolis ini. Jadi apa mau mu?”

Makan malam sudah siap, Yuzu memintaku memanggilmu.”

Kalau begitu ayo turun. Tunggu apa lagi?”

Ichi-nii, aku masih punya 1 pertanyaan.”

Mmm..”

Kapan kau akan mengungkapkan perasaanmu?” “Dan jangan bilang aku terlalu kecil untuk mengerti hal seperti ini. Aku sudah SMP Ichi-nii.”

Well, when she tell me when it’s time to tell I love her.”. “Dan setelah aku membawanya kembali tentunya.”

 

Rekaman kedua berakhir disitu. Tanpa disadari, airmata Rukia sudah terjun bebas membasahi pipi putihnya. Rukia terkenang akan kata-kata yang pernah Ichigo dulu.

You know, if death is not really the end for us too, that encounter maybe a beginning

We could’ve been linked for much longer

I don’t really know, but a connection once linked, it will never disappear

So even if we forget everything, that connection will return again”

Rukia ingin sekali percaya, tidak. Rukia memang percaya pada ucapan Ichigo itu, bahwa kematian bukanlah akhir. Perbedaan dunia mereka berdua pun bukan pemisah. Ichigo sendiri sudah membuktikannya saat ia menolong Rukia yang hendak dieksekusi. Saat semua orang melupakan keberadaanya, Ichigo ingat dan datang ke Soul Society untuk mencari dan menyelamatkannya lagi.

Berkali-kali Ichigo melindunginya, membuatnya merasa aman dari dunia luar. Rukia bahkan tidak ingat lagi kapan terakhir kali ia bisa tidur nyenyak setelah berpisah dengan Ichigo. Bagi Rukia, berada dekat dengan Ichigo adalah tempat teraman. Karena bersama Ichigo lah ia menemukan tempatnya, rumah untuknya kembali.

It’s my job to keep you safe.”

“Ichigo…” ucap Rukia lirih sambil memeluk dirinya sendiri.

“Love you too baka.” Sambil menangis ia tertawa mengingat akan kebodohannya yang menganggap kalau semua ini sudah berakhir. Harusnya ia tahu kalau Ichigo tidak akan diam saja dan pasti akan membawa pergi lagi. Ichigo pasti akan datang.

“Cepatlah datang Ichigo.”. “Dan saat itu, kau harus mengatakanya dengan jelas dihadapanku.”

“Coz it’s time you to tell me that you loved me.”

Perfect Give”T…

Museum Nasional a.k.a Museum Gajah

Museum Nasional Republik Indonesia atau yang biasa disapa Museum Gajah ini terletak di Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat, DKI Jaya (sebelum halte Trans Jakarta “Monas”). Awal mula berdirinya gedung ini adalah ketika Pemerintah Belanda membentuk sebuah lembaga perkumpulan intelektual dan ilmuwan Belanda yang ada di Batavia dengan nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada tanggal 24 April 1778 M. Lembaga ini bertujuan mempromosikan penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan—khususnya dalam bidang sejarah, arkeologi, etnografi—dan mempublikasikan penemuan-penemuan di bidang tersebut. Untuk menunjang kegiatan lembaga, Pemerintah Belanda membangun sebuah perpustakaan untuk menampung koleksi buku-buku dan benda-benda budaya yang disumbangkan oleh para pendiri dan anggotanya.
Karena semakin meningkatnya jumlah koleksi, sebuah gedung baru pun dibangun. Gedung baru ini diberi nama Literary Society. Literary Society digunakan oleh Pemerintah Belanda sebagai tempat menampung dan merawat koleksi-koleksi buku dan benda-benda temuan arkeologis, serta digunakan sebagai perpustakaan. Namun lambat laun, tepatnya pada tahun 1862 M, Pemerintah Hindia Belanda akhirnya mendirikan gedung baru lagi yang tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan maupun kantor saja, melainkan juga sebagai museum untuk merawat dan memamerkan koleksi-koleksi yang ada. Gedung baru inilah yang merupakan cikal bakal Museum Nasional Republik Indonesia.

"Tampak depan Museum Gajah"

Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya “Gedung Gajah” atau “Museum Gajah” karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada 1871. Kadang kala disebut juga “Gedung Arca” karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode sejarah.
Wisatawan yang mengunjungi museum ini dapat menyaksikan koleksi benda-benda peninggalan sejarah dari seluruh Nusantara, di antaranya arca, prasasti, patung, artefak, senjata tradisional, alat kesenian tradisional, dan banyak lagi lainnya yang diklasifikasikan dalam tujuh kelompok, yakni koleksi prasejarah, arkeologi, keramik, numismatik (berhubungan dengan mata uang) dan heraldik (berhubungan dengan lambang kerajaan), sejarah, etnografi, dan geografi. Koleksi-koleksi tersebut dapat disaksikan dalam sembilan ruangan yang berbeda, yakni: Ruang Etnografi, Ruang Perunggu, Ruang Pra-Sejarah, Ruang Keramik, Ruang Tekstil, Ruang Numismatik & Heraldik, Ruang Relik Sejarah, Ruang Patung Batu, dan Ruang Khazanah.

Sejak memasuki Museum, para wisatawan sudah disuguhi oleh berbagai macam arca-arca dan patung peninggalan kerajaan-kerajaan terdahulu. Seperti patung ganesha yang sedang duduk bersila di ruang depan setelah meja resepsionis atau tempat pembelian tiket. Diletakannya patung tersebut disana seolah-olah patung ganesha tersebut sedang menyambut kedatangan para pengunjung.

Pengunjung dapat memilih dan melihat koleksi-koleksi museum sesuai dengan ketertarikan dan minatnya berdasarkan pada ruangannya. Misalnya, bagi pengunjung yang ingin melihat koleksi benda-benda bersejarah yang terbuat dari emas dan batuan-batuan berharga peninggalan kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Nusantara, dapat masuk ke Ruang Khazanah Emas yang berada dilantai 2 gedung. Ruang Khazanah Emas dibagi menjadi dua ruangan, yaitu Ruang Arkeologi dan Ruang Etnografi. Di ruangan ini wisatawan dapat melihat lebih dari 200 buah benda-benda bersejarah yang terbuat dari emas dan perak. Khusus di Ruang Etnografi terdapat benda-benda yang terbuat dari emas 14—24 karat dan banyak dihiasi oleh batu permata. Benda-benda di ruangan ini, menurut sejarahnya, banyak yang ditemukan secara tidak sengaja, bukan ditemukan lewat penggalian arkeologis. Sedangkan bagi pengujung yang mempunyai minat lain dapat menuju ruang-ruang yang sudah dibagi sesuai klasifikasi-klasifikasi ruang tersebut.
Beberapa foto dari barang dalam ruang Khazanah:

Secara umum, Museum ini mempunyai banyak koleksi benda-benda budaya dan benda-benda zaman prasejarah dari seluruh Nusantara, serta benda-benda peninggalan peradaban bangsa lain, seperti Asia Tenggara dan Eropa. Sumber koleksi di museum ini banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor, dan pembelian.
Museum Gajah dibuka untuk umum setiap hari kecuali hari senin dan libur nasional

Jam Buka
Selasa – Kamis 08.30 – 14.30
Jumat 08.30 – 11.30
Sabtu 08.30 – 13.30
Minggu 08.30 – 14.30
Senin & Hari Libur Nasional Tutup

Karcis Masuk
Dewasa Rp 5000 (Perorangan) – Rp 3000 (Rombongan)
Anak-anak Rp 2000 (Perorangan) – Rp 1000 (Rombongan)
Turis $10 (perorangan) + mendapatkan Guide book National Museum Of Indonesia (Museum Gajah)

PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

1. PERBEDAAN KEPENTINGAN

Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku kerena adanya dorongan untuk memenuhi kepentingnanya yang sifatnya esensial bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri.
Oleh karena individu mengandung arti bahwa tidak ada dua oarng yang sama persis dalam aspek-aspek pribadinya, baik jasmani maupun rohani, makanya dengan sendirinya timbul perbedaan individu dalam hal kepentingannya. Perbedaan kepentingan itu antara lain berupa:
1. Kepentingan individu untuk memperoleh kasih saying
2. Kepentingan individu untuk memperoleh harga diri
3. Kepentingan individu untuk memperoleh penghargaan yang sama
4. Kepentingan individu untuk memperoleh prestasi dan posisi
5. Kepentingan individu untuk dibutuhkan orang lain
6. Kepentingan individu untuk memperoleh kedudukan dalam kelompoknya
7. Kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri
8. Kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri

Kenyataan-kenyataan seperti itu menunjukan ketidakmampuan suatu ideology mewujudkan odealisme yang akhirnya melahirkan kondisi disintegrasi atau konflik. Jarak yang terlalu besar antara harapan dengan kenyataan pelaksaan dan hasilnya. Kenyataan itu disebabkan oleh sudut pandang yang berbeda antara pemerintah atau penguasa sebagai pemegang kendali ideology dengan berbagai kelompok kepentingan sebagai sub-sub ideology
Perbedaan kepentingan ini tidak secara langsung menyebabkan terjadinya konflik tetapi mengenal beberapa frase, yaitu:
1. Fase disorganisasi, yang terjadi karena kesalah pahaman yang menyebabkan sulit atau tidak dapatnya satu kelompok sosial menyesuaikan diri dengan norma ideology
2. Fase dis-intergrasi (konflik), yaitu pernyataan tidak setuju dalam berbagai bentuk seperti: timbulnya emosi massa, protes, aksi mogok, pemberontakan, dll.

2. PRASANGKA, DISKRIMINASI, DAN ETHNOSENTRISME

a. Prasangka dan Diskriminasi
Prasangka dan Diskriminasi adalah dua hal yang ada relevansinya. Perbedaan pokok antara prasangka dan dikriminatif pada tindakan. Diskriminasi merupakan kecendrungan yang tidak tampak dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang bersifat realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh individu masing-masing.

b. Sebab-sebab timbulnya Prasangka dan Diskriminasi
 Latar belakang sejarah
 Dilatar belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dab situasional
 Bersumber dari factor kepribadian
 Perbedaan keyakinan, kepercayaan, dan agama

c. Usaha mengurangi/menghilangkan Prasangka dan Diskriminasi
 Perbaikan kondisi sosial ekonomi
Usaha pemerataan pembangunan dan peningkatan pendapatan bagi warga Negara Indonesia yang masih tergolong dibawah garis kemiskinan, dapat mengurangi kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Melalui program-program pembangunan yang didukung oleh lembaga pemerintahan sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
 Perluasan kesempatan belajar
Usaha perluasan kesempatan belajar bagi seluruh warga Negara Indonesia tanpa mengenal golongan sesuai dengan hak semua warna Negara untuk memperoleh pendidikan.
 Sikap terbuka dan lapang dada
Dengan sikap terbuka dan lapang dada, saling menghormati, menghargai, serta upaya menjalin komunikasi dua arah untuk berdialog antar golongan, kelompok sosial yang disuga berprasangka dengan tujuan membina kesatuan dan persatuan bangsa.

d. Ethnosentrisme
Ethnosentrisme dapat dianggap sebagai sikap dasar ideology chauvinis yang melahirkan chauvinisme yaitu merasa diri superior, lebih unggul dari bangsa-bangsa lain dan memandang bangsa lain adalah inferior, rendah, nista, bodoh, dll. Akibat dari Ethnosentrisme adalah penampilan ethnosentrisme yang dapat menjadi penyebab utama kesalah pahaman dalam komunikasi.

3. PERTENTANGAN-PERTENTANGAN SOSIAL/KETEGANGAN DALAM MASYARAKAT

Konflik mengandung pengertian sebagai pertentangan yang kasar. Dalam hal ini terdapat 3 elemen dasar yang merupakan cirri dari situasi konflik, yaitu:
1. Terdapat dua atau lebih unit-unit atau bagian yang terlibat dalam konflik.
2. Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam hal kebutuhan, tujuan, masalah, sikap, maupun gagasan-gagasan.
3. Terdapat interaksi diantara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan

Konflik dapat terjadi pada lingkungan:
1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjukan adanya pertentangan, ketidakpastian atau emosi dan dorongan yang antagonistic dalam diri sesorang.
2. Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi dalam diri individu, dari perbedaan pada para anggota kelompok dalam tujuan, nilai-nilai dan norma, motivasi untuk menjadi anggota kelompok, serta minat mereka.

Adapun cara memcahkan konflik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Elimination, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat dlaam konflik
2. Subjugation atau Domination, artinya pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa pihak lain untuk mengalah dan mentaatinya.
3. Majority rule, artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting
4. Minority consent
5. Compromise, artinya berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah.
6. Integration, artinya berdiskusi sampai kelompok mencapai keputusan yang memuaskan bagi semua pihak

4. GOLONGAN-GOLONGAN YANG BERBEDA DAN INTEGRASI SOSIAL

a. Masyarakat majemuk dan Nasional Indonesia
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial yang dipersatukan oleh kekuatan nasional yang berwujud Negara Indonesia. Untuk lebih jelasnya dikemukakan aspek dari kemasyarakatan tersebut:
1. Suku bangsa dan kebudayaan, Indonesia terdiri dari sejumlah suku bangsa dengan berbagai kebudayaan.
2. Agama, Indonesia memiliki toleransi yang besar terhadap berbagai kepercayaan.
3. Bahasa, pada suku-suku bangsa yang bermacam-macam itu terikat oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
4. Nasional Indonesia, adalah merupakan kesatuan solidaritas yang terbentuk sebagai hasil perjuangan kemerdekaan Indonesia.

b. Intergrasi
Masalah besar yang dihadapi Indonesia setelah merdeka adalah integrasi diantara masyarakat yang majemuk. Integrasi bukan peleburan, tetapi keserasian persatuan.
Variable-variabel yang dapat menjadi penghambat dalam integrasi adalah:
1. Klaim/tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai miliknya.
2. Isu asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi antara warga Negara Indonesia asli dan keturunan (Arab/Cina).
3. Agama, sentiment agama dapat digerakan untuk mempertajam perbedaan kesukuan.
4. Prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang anggota golongan tertentu.

c. Integrasi sosial
integrasi sosial (masyarakat) dapat diartikan adanya kerja sama dari seluruh anggota masyarakat mulai dari individu, keluarga, lembaga masyarakat secara keseluaruhan.
Sumpah pemuda 28 Oktober 1928, merupakan bukti sejarah perwujudan solidaritas sosial yang begitu kental antar golongan pemuda. Pada hakikatnya bangsa Indonesia adalah satu corak ragam budaya yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa yang menjadi modal mengembangkan budaya bangsa seluruhnya, sehingga menjadi modal dasar bagi terwujudnya Integrasi sosial-Integrasi Nasional.

d. Integrasi nasional
1. Beberapa permasalahan integrasi nasional
a) Perbedaan Ideoloogi
b) Kondisi masyarakat yang majemuk
c) Masalah territotial daerah yang berjarak cukup jauh
d) Pertumbuhan partau politik
2. Upaya pendekatan

Upaya yang dilakukan untuk memperkecil atau menghilangkan kesenjangan-kesenjangan itu antara lain:
• Mempertebal keyakinan seluruh warga Negara terhadap ideolgi nasional
• Membuka isolasi antar berbagai kelompok dengan membangun sarana komunikasi, informasi, dan ttranspormasi
• Menggali kebudayaan daerah untuk menjadi kebudayaan nasional
• Membentuk jaringan asimilasi bagi berbagai kelompok etnis baik pribumi atau keturunan asing

Hubungan Timbal Balik Desa & Kota

Masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Masyarakat (society) merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti manusia yang tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara berbagai individu.

A. Definisi Masyarakat

Dalam Bahasa Inggris disebut Society, asal katanya Socius yang berarti “kawan”. Kata “Masyarakat” berasal dari bahasa Arab, yaitu Syiek, artinya “bergaul”. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk – bentuk akhiran hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai pribadi melainkan oleh unsur – unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan

B. Masyarakat Pedesaan (masyarakat tradisional)

a. Pengertian desa/pedesaan

Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.

Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.

Sedang menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :

a) mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
b) Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
c) Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.

Pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang saling berkaitan satu sama lain diantara unsur-unsurnya, yang sebenarnya desa masih dianggap sebagai standar dan pemelihara sistem kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli seperti tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong, kepribadian dalam berpakaian, adat istiadat , kesenian kehidupan moral susila dan lain-lain yang mempunyai ciri yang jelas.
Dari defenisi tersebut, sebetulnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh.

b. Ciri-ciri Masyarakat desa (karakteristik)

Dalam buku Sosiologi karangan Ruman Sumadilaga seorang ahli Sosiologi “Talcot Parsons” menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional (Gemeinschaft) yang mebngenal ciri-ciri sebagai berikut :

a. Afektifitas ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta , kesetiaan dan kemesraan. Perwujudannya dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang diderita orang lain dan menolongnya tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.
c. Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme)
d. Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).
e. Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

C. Masyarakat Perkotaan

a. Pengertian Kota

Seperti halnya desa, kota juga mempunyai pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini.

i. Wirth
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.

ii. Max Weber
Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.

iii. Dwigth Sanderson
Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih.
Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.

Menurut konsep Sosiologik sebagian Jakarta dapat disebut Kota, karena memang gaya hidupnya yang cenderung bersifat individualistik. Marilah sekarang kita meminjam lagi teori Talcott Parsons mengenai tipe masyarakat kota yang diantaranya mempunyai ciri-ciri :

a). Netral Afektif
Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkat Rasionalitas dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association. Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
b). Orientasi Diri
Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik.
c). Universalisme
Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme.
d). Prestasi
Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya.
e). Heterogenitas
Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.

b. Ciri-ciri masyarakat Perkotaan

Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat perkotaan, yaitu :

i. Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
ii. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain (Individualisme).
iii. Pembagian kerja diantara warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
iv. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
v. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
vi. Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

D. Perbedaan antara desa dan kota

Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994), per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.

Kita dapat membedakan antara masya-rakat desa dan masyarakat kota yang masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan “berlawanan” pula. Perbedaan ciri antara kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai berikut:

Masyarakat Pedesaan
*Perilaku homogen
*Perilaku yang dilandasi oleh konsep kekeluargaan dan kebersamaan
*Perilaku yang berorirentasi pada tradisi dan status
*Isolasi sosial, sehingga statistik
*Kesatuan dan keutuhan kultural
*Banyak ritual dan nilai-nilai saktal
*Kolektivisme

Masyarakat perkotaan
*Perilaku Heterogen
*Perilaku yang dilandasi oleh konsep pengandalan diri dan kelembagaan
*Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas dan fungsi
*Mobilitas sosial, sehingga dinamik
*Kebauran dan diversifikasi cultural
*Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekural
*Individualisme

Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota. Dengan melihat perbedaan perbedaan yang ada mudah mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat disebut sebagi masyarakat pedeasaan atau masyarakat perkotaan.

Ciri ciri tersebut antara lain :

1) jumlah dan kepadatan penduduk
2) lingkungan hidup
3) mata pencaharian
4) corak kehidupan sosial
5) stratifiksi sosial
6) mobilitas sosial
7) pola interaksi sosial
8) solidaritas sosial
9) kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional

E. Hubungan pedesaan-perkotaan.

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan.

Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.

Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.

Secara teoristik, kota merubah atau paling mempengaruhi desa melalui beberapa caar, seperti:

(i) Ekspansi kota ke desa, atau boleh dibilang perluasan kawasan perkotaan dengan merubah atau mengambil kawasan perdesaan. Ini terjadi di semua kawasan perkotaan dengan besaran dan kecepatan yang beraneka ragam;
(ii) Invasi kota , pembangunan kota baru seperti misalnya Batam dan banyak kota baru sekitar Jakarta merubah perdesaan menjadi perkotaan. Sifat kedesaan lenyap atau hilang dan sepenuhnya diganti dengan perkotaan;
(iii) Penetrasi kota ke desa, masuknya produk, prilaku dan nilai kekotaan ke desa. Proses ini yang sesungguhnya banyak terjadi;
(iv) ko-operasi kota-desa, pada umumnya berupa pengangkatan produk yang bersifat kedesaan ke kota. Dari keempat hubungan desa-kota tersebut kesemuanya diprakarsai pihak dan orang kota. Proses sebaliknya hampir tidak pernah terjadi, oleh karena itulah berbagai permasalahan dan gagasan yang dikembangkan pada umumnya dikaitkan dalam kehidupan dunia yang memang akan mengkota.

Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah :

a). Urbanisasi dan Urbanisme

Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. (soekanto,1969:123 ).

b) Sebab-sebab Urbanisasi

1.) Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push factors)
2.) Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota (pull factors)

Hal – hal yang termasuk push factor antara lain :

a. Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
b. Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
c. Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
d. Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
e. Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.

Hal – hal yang termasuk pull factor antara lain :

a. Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan
b. Dikota lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
c. Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
d. Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.
e. Kota memberi kesempatan untuk menghindarkan diri dari kontrol sosial yang ketat atau untuk mengangkat diri dari posisi sosial yang rendah ( Soekanti, 1969 : 124-125 ).

Kesimpulan

Karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan didesa maupun diperkotaan. Tentunya itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini, kesenjangan Sosial, mutu pendidikan yang masih rendah, dan masih banyak lagi fenomena kehidupan tersebut diatas yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu ada pada lingkungan dimana kita tinggal.

Sehubungan dengan itu, barangkali kita berprasangka atau mengira fenomena-fenomena yang terjadi diatas hanya terjadi dikota saja, ternyata problem yang tidak jauh beda ada didesa, yang kita sangka adalah tempat yang aman, tenang dan berakhlak (manusiawi), ternyata telah tersusupi oleh kehidupan kota yang serba boleh dan bebas itu disatu pihak masalah urbanisasi menjadi masalah serius bagi kota dan desa, karena masyarakat desa yang berurbanisasi ke kota menjadi masyarakat marjinal dan bagi desa pengaruh urbanisasi menjadikan sumber daya manusia yang produktif di desa menjadi berkurang yang membuat sebuah desa tak maju bahkan cenderung tertinggal.

Pembangunan Wilayah perkotaan seharusnya berbanding lurus dengan pengembangan wilayah desa yang berpengaruh besar terhadap pembangunan kota. Masalah yang terjadi di kota tidak terlepas karena adanya problem masalah yang terjadi di desa, kurangnya sumber daya manusia yang produktif akibat urbanisasi menjadi masalah yang pokok untuk diselesaikan dan paradigma yang sempit bahwa dengan mengadu nasib dikota maka kehidupan menjadi bahagia dan sejahtera menjadi masalah serius. Problem itu tidak akan menjadi masalah serius apabila pemerintah lebih fokus terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan.

Sumber :

Sistem pelapisan sosial dan dampaknya dalam kehidupan bermasyarakat

PELAPISAN SOSIAL

1. Pengertian

Masyarakat terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dengan terjadinya kelompok sosial itu maka terbentuklah suatu pelapisan masyarakat atau masyarakat yang berstrata. Jika dilihat dari kenyataan, maka Individu dan Masyarakat adalah Komplementer. dibuktikan bahwa:
a. Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya;
b. Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan bisa menyebabkan perubahan besar masyarakatnya.

Kata stratification berasal dari kata stratum, jamaknya strata yang berarti lapisan. Menurut Pitirim A. Sorokin, pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau hirarkis. Hal tersebut dapat kita ketahui adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah dalam masyarakat.
Menurut Pitirim A.Sorokin, Bahwa “Pelapisan Masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarchis)”. Sedangkan menurut Theodorson dkk, didalam Dictionary of Sociology, bahwa “Pelapisan Masyarakat berarti jenjang status dan peranan yang relatif permanent yang terdapat didalam sistem sosial (dari kelompok kecil sampai ke masyarakat) di dalam pembedaan hak, pengaruh, dan kekuasaan. Masyarakat yang berstratifikasi sering dilukiskan sebagai suatu kerucut atau piramida, dimana lapisan bawah adalah paling lebar dan lapisan ini menyempit ke atas.

Pelapisan sosial merupakan gejala yang bersifat universal. Kapan pun dan di dalam masyarakat mana pun, pelapisan sosial selalu ada. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyebut bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai, maka dengan sendirinya pelapisan sosial terjadi. Sesuatu yang dihargai dalam masyarakat bisa berupa harta kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kekuasaan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelapisan sosial adalah pembedaan antar warga dalam masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara bertingkat. Wujudnya adalah terdapat lapisan-lapisan di dalam masyarakat diantaranya ada kelas sosial tinggi, sedang dan rendah. Pelapisan sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya, bila dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang itu disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang.

2. Terjadinya pelapisan sosial

 Terjadi dengan Sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan atas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya. Oleh karena itu sifat yang tanpa disengaja inilah yang membentuk lapisan dan dasar dari pada pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan masyarakat dimana sistem itu berlaku.

 Terjadi dengan Sengaja
Sistem pelapisan ini dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Dalam sistem ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.
Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara sengaja, mengandung 2 sistem, yaitu:
a. Sistem Fungsional, merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat.
b. Sistem Skalar, merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah ke atas ( Vertikal ).

3. Perbedaan sistem pelapisan menurut sifatnya

Menurut sifatnya, sistem pelapisan dalam masyarakat dibedakan menjadi:

1) Sistem pelapisan masyarakat yang tertutup
Dalam sistem ini, pemindahan anggota masyarakat kelapisan yang lain baik ke atas maupun ke bawah tidak mungkin terjadi, kecuali ada hal-hal istimewa. Di dalam sistem yang tertutup, untuk dapat masuk menjadi dari suatu lapisan dalam masyarakat adalah karena kelahiran. Di India, sistem ini digunakan, yang masyarakatnya mengenal sistem kasta. Sebagaimana yang kita ketahui masyarakat terbagi ke dalam :
 Kasta Brahma : merupakan kasta tertinggi untuk para golongan pendeta;
 Kasta Ksatria : merupakan kasta dari golongan bangsawan dan tentara yang dipandang sebagai lapisan kedua;
 Kasta Waisya : merupakan kasta dari golongan pedagang;
 Kasta sudra : merupakan kasta dari golongan rakyat jelata;
 Paria : golongan bagi mereka yang tidak mempunyai kasta. seperti : kaum gelandangan, peminta,dsb.

2) System pelapisan masyarakat yang terbuka
Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Contoh:
– Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau sebaliknya.
– Seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidikan asal ada niat dan usaha.

3) System pelapisan social campuran
Stratifikasi sosial c a m p u r a n m e r u p a k a n kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang Bali b e r k a s t a Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.

4. Beberapa teori tentang pelapisan sosial

Bentuk konkrit daripada pelapisan masyarakat ada beberapa macam. Ada yang membagi pelapisan masyarakat seperti:
a. Masyarakat terdiri dari Kelas Atas (Upper Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).
b. Masyarakat terdiri dari tiga kelas, yaitu Kelas Atas (Upper Class), Kelas Menengah (Middle Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).
c. Sementara itu ada pula sering kita dengar : Kelas Atas (Upper Class), Kelas Menengah (Middle Class), Kelas Menengah Ke Bawah (Lower Middle Class) dan Kelas Bawah (Lower Class).

Para pendapat sarjana memiliki tekanan yang berbeda-beda di dalam menyampaikan teori-teori tentang pelapisan masyarakat. seperti:
• Aristoteles membagi masyarakat berdasarkan golongan ekonominya sehingga ada yang kaya, menengah, dan melarat.
• Prof.Dr.Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH.MA menyatakan bahwa selama didalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya makan barang itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapis dalam masyarakat.
• Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada 2 kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu, yaitu golongan elite dan golongan non elite.
• Gaotano Mosoa, sarjana Italia. menyatakan bahwa di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang sangat kurang berkembang, sampai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas yang pemerintah dan kelas yang diperintah.
• Karl Marx, menjelaskan secara tidak langsung tentang pelapisan masyarakat menggunakan istilah kelas menurut dia, pada pokoknya ada 2 macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyai dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi.
Dari apa yang diuraikan diatas, akhirnya dapat disimpulkan bahwa ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakatke dalam lapisan-lapisan sosial adalah sebagai berikut :
• Ukuran kekayaan :Ukuran kekayaan dapat dijadikan suatu ukuran; barangsiapa yang mempunyai kekayaan paling banyak, temasuk lapisan sosial paling atas.
• Ukuran kekuasaan : Barangsiapa yang mempunyai kekuasaan atau wewenang terbesar, menempati lapisan sosial teratas
• Ukuran kehormatan : ukuran kehormatan terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, menduduki lapisan sosial teratas.
• Ukuran ilmu pengetahuan : Ilmu pengetahuan dipakai ukuran oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Ukuran ini kadang-kadang menjadi negatif, karena ternyata bukan ilmu yang menjadi ukuran tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal itu mengakibatkan segala mecam usaha untuk mendapatkan gelar tersebut walaupun secara tidak halal.
Ukuran-ukuran diatas tidaklah bersifat limitatif (terbatas),tetapi masih ada ukuran-ukuran lain yang dapat dipergunakan. Akan tetapi, ukuran-ukuran diatas yang menonjol sebagai dasar timbulnya pelapisan sosial dalam masyarakat. Jadi kriteria pelapisan sosial pada hakikatnya tergantung pada sistem nilai yang dianut oleh anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan.

5. Dampak dari pelapisan sosial
Adanya pelapisan sosial dapat pula mengakibatkan atau mempengaruhi tindakan-tindakan warga masyarakat dalam interaksi sosialnya. Pola tindakan individu-individu masyarakat sebagai konsekwensi dari adanya perbedaan status dan peran sosial akan muncul dengan sendirinya.

 Dampak positif
Pelapisan sosial merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Pelapisan sosial memberikan dampak positif jika dilakukan untuk mencapai tujuan bersama, dengan adanya pelapisan sosial mayarakat dalam satu organisasi dituntut untuk dapat menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak mereka. Dengan system pelapisan sosial ini, maka akan terjalin kerja sama yang bersifat mutualisme.

 Dampak negative
Pelapisan sosial bagi sebagian kalangan merupakan dampak negative. Terjadinya kesenjangan sosial antar kalangan dalam masyarakat merupakan bukti kongkrit bahwa pelapisan sosial memberikan dampak buruk. Ideology seperti inilah yang membuat terjadinya banyak keributan dan permasalahan yang berasal dari sikap kesenjangan sosial. Kalangan kelas atas yang memandang rendah kalangan bawah semakin memperparah situasi, masyarakat bawah yang tidak menerima dirinya berada di bawah merasa cemburu kepada orang lain yang berada di atas. Akibatnya, terjadilah tindakan-tindakan kriminal. Sikap saling tidak menghargai orang lain seperti itu dapat menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

Dari poin-poin diatas dapat kita simpulkan bahwa pelapisan sosial memang tidak dapat terlepas dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi bukan berarti pelapisan sosial malah merenggangkan dan mejadikan kesenjangan sosial dimasyarakat. Saling menghargai dan menghormati kewajiabn dan hak orang lain adalah solusi untuk masalah pelapisan sosial ini

Contoh Kasus dan Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Campur

I. PENDAHULUAN

Perkawinan campuran telah merambah seluruh pelosok Tanah Air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan, dan transportasi telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia.[2] Menurut survey yang dilakukan oleh Mixed Couple Club, jalur perkenalan yang membawa pasangan berbeda kewarganegaraan menikah antara lain adalah perkenalan melalui internet, kemudian bekas teman kerja/bisnis, berkenalan saat berlibur, bekas teman sekolah/kuliah, dan sahabat pena. Perkawinan campur juga terjadi pada tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja dari negara lain.[3] Dengan banyak terjadinya perkawinan campur di Indonesia sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diakomodir dengan baik dalam perundang-undangan di indonesia.

Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 57 :

”Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam Undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.”

Selama hampir setengah abad pengaturan kewarganegaraan dalam perkawinan campuran antara warga negara indonesia dengan warga negara asing, mengacu pada UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958. Seiring berjalannya waktu UU ini dinilai tidak sanggup lagi mengakomodir kepentingan para pihak dalam perkawinan campuran, terutama perlindungan untuk istri dan anak.

Barulah pada 11 Juli 2006, DPR mengesahkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang baru. Lahirnya undang-undang ini disambut gembira oleh sekelompok kaum ibu yang menikah dengan warga negara asing, walaupun pro dan kontra masih saja timbul, namun secara garis besar Undang-undang baru yang memperbolehkan dwi kewarganegaraan terbatas ini sudah memberikan pencerahan baru dalam mengatasi persoalan-persoalan yang lahir dari perkawinan campuran.

Persoalan yang rentan dan sering timbul dalam perkawinan campuran adalah masalah kewarganegaraan anak. UU kewarganegaraan yang lama menganut prinsip kewarganegaraan tunggal, sehingga anak yang lahir dari perkawinan campuran hanya bisa memiliki satu kewarganegaraan, yang dalam UU tersebut ditentukan bahwa yang harus diikuti adalah kewarganegaraan ayahnya. Pengaturan ini menimbulkan persoalan apabila di kemudian hari perkawinan orang tua pecah, tentu ibu akan kesulitan mendapat pengasuhan anaknya yang warga negara asing.

Dengan lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru, sangat menarik untuk dikaji bagaimana pengaruh lahirnya UU ini terhadap status hukum anak dari perkawinan campuran, berikut komparasinya terhadap UU Kewarganegaraan yang lama. Secara garis besar perumusan masalah adalah sebagai berikut :

Bagaimana pengaturan status hukum anak yang lahir dari perkawinan campuran sebelum dan sesudah lahirnya UU Kewarganegaraan yang baru?
Apakah kewarganegaraan ganda ini akan menimbulkan masalah bagi anak?

II. ANAK SEBAGAI SUBJEK HUKUM

Definisi anak dalam pasal 1 angka 1 UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah :

“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Dalam hukum perdata, diketahui bahwa manusia memiliki status sebagai subjek hukum sejak ia dilahirkan. Pasal 2 KUHP memberi pengecualian bahwa anak yang masih dalam kandungan dapat menjadi subjek hukum apabila ada kepentingan yang menghendaki dan dilahirkan dalam keadaan hidup.[4] Manusia sebagai subjek hukum berarti manusia memiliki hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum. Namun tidak berarti semua manusia cakap bertindak dalam lalu lintas hukum. Orang-orang yang tidak memiliki kewenangan atau kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum diwakili oleh orang lain. Berdasarkan pasal 1330 KUHP, mereka yang digolongkan tidak cakap adalah mereka yang belum dewasa, wanita bersuami, dan mereka yang dibawah pengampuan. Dengan demikian anak dapat dikategorikan sebagai subjek hukum yang tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Seseorang yang tidak cakap karena belum dewasa diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan perbuatan hukum. Anak yang lahir dari perkawinan campuran memiliki kemungkinan bahwa ayah ibunya memiliki kewarganegaraan yang berbeda sehingga tunduk pada dua yurisdiksi hukum yang berbeda. Berdasarkan UU Kewarganegaraan yang lama, anak hanya mengikuti kewarganegaraan ayahnya, namun berdasarkan UU Kewarganegaraan yang baru anak akan memiliki dua kewarganegaraan. Menarik untuk dikaji karena dengan kewarganegaraan ganda tersebut, maka anak akan tunduk pada dua yurisdiksi hukum.

III. PENGATURAN MENGENAI ANAK DALAM PERKAWINAN CAMPURAN

A. Menurut Teori Hukum Perdata Internasional

Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukan status anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihat dahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan[5], apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehingga anak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya.

Sejak dahulu diakui bahwa soal keturunan termasuk status personal[6]. Negara-negara common law berpegang pada prinsip domisili (ius soli) sedangkan negara-negara civil law berpegang pada prinsip nasionalitas (ius sanguinis).[7] Umumnya yang dipakai ialah hukum personal dari sang ayah sebagai kepala keluarga (pater familias) pada masalah-masalah keturunan secara sah. Hal ini adalah demi kesatuan hukum dalam keluarga dan demi kepentingan kekeluargaan, demi stabilitas dan kehormatan dari seorang istri dan hak-hak maritalnya.[8] Sistem kewarganegaraan dari ayah adalah yang terbanyak dipergunakan di negara-negara lain, seperti misalnya Jerman, Yunani, Italia, Swiss dan kelompok negara-negara sosialis.[9]

Dalam sistem hukum Indonesia, Prof.Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak–anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU Kewarganegaraan No.62 tahun 1958.[10]

Kecondongan pada sistem hukum ayah demi kesatuan hukum, memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga, namun dalam hal kewarganegaraan ibu berbeda dari ayah, lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbeda kewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih dibawah umur.

B. Menurut UU Kewarganegaraan No.62 Tahun 1958

1. Permasalahan dalam perkawinan campuran

Ada dua bentuk perkawinan campuran dan permasalahannya:

a. Pria Warga Negara Asing (WNA) menikah dengan Wanita Warga Negara
Indonesia (WNI)

Berdasarkan pasal 8 UU No.62 tahun 1958, seorang perempuan warga negara Indonesia yang kawin dengan seorang asing bisa kehilangan kewarganegaraannya, apabila selama waktu satu tahun ia menyatakan keterangan untuk itu, kecuali apabila dengan kehilangan kewarganegaraan tersebut, ia menjadi tanpa kewarganegaraan. Apabila suami WNA bila ingin memperoleh kewarganegaraan Indonesia maka harus memenuhi persyaratan yang ditentukan bagi WNA biasa.[11] Karena sulitnya mendapat ijin tinggal di Indonesia bagi laki laki WNA sementara istri WNI tidak bisa meninggalkan Indonesia karena satu dan lain hal( faktor bahasa, budaya, keluarga besar, pekerjaan pendidikan,dll) maka banyak pasangan seperti terpaksa hidup dalam keterpisahan.[12]

b. Wanita Warga Negara Asing (WNA) yang menikah dengan Pria Warga Negara Indonesia (WNI)

Indonesia menganut azas kewarganegaraan tunggal sehingga berdasarkan pasal 7 UU No.62 Tahun 1958 apabila seorang perempuan WNA menikah dengan pria WNI, ia dapat memperoleh kewarganegaraan Indonesia tapi pada saat yang sama ia juga harus kehilangan kewarganegaraan asalnya. Permohonan untuk menjadi WNI pun harus dilakukan maksimal dalam waktu satu tahun setelah pernikahan, bila masa itu terlewati , maka pemohonan untuk menjadi WNI harus mengikuti persyaratan yang berlaku bagi WNA biasa.[13] Untuk dapat tinggal di Indonesia perempuan WNA ini mendapat sponsor suami dan dapat memperoleh izin tinggal yang harus diperpanjang setiap tahun dan memerlukan biaya serta waktu untuk pengurusannya. Bila suami meninggal maka ia akan kehilangan sponsor dan otomatis keberadaannya di Indonesia menjadi tidak jelas Setiap kali melakukan perjalanan keluar negri memerlukan reentry permit yang permohonannya harus disetujui suami sebagai sponsor.[14] Bila suami meninggal tanah hak milik yang diwariskan suami harus segera dialihkan dalam waktu satu tahun.[15] Seorang wanita WNA tidak dapat bekerja kecuali dengan sponsor perusahaan. Bila dengan sponsor suami hanya dapat bekerja sebagai tenaga sukarela. Artinya sebagai istri/ibu dari WNI, perempuan ini kehilangan hak berkontribusi pada pendapatan rumah tangga.

2. Anak hasil perkawinan campuran

Indonesia menganut asas kewarganegaraan tunggal, dimana kewarganegaraan anak mengikuti ayah, sesuai pasal 13 ayat (1) UU No.62 Tahun 1958 :

“Anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin yang mempunyai hubungan hukum kekeluargaan dengan ayahnya sebelum ayah itu memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia, turut memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia setelah ia bertempat tinggal dan berada di Indonesia. Keterangan tentang bertempat tinggal dan berada di Indonesia itu tidak berlaku terhadap anak-anak yang karena ayahnya memperoleh kewarga-negaraan Republik Indonesia menjadi tanpa kewarga-negaraan.”

Dalam ketentuan UU kewarganegaraan ini, anak yang lahir dari perkawinan campuran bisa menjadi warganegara Indonesia dan bisa menjadi warganegara asing :

1. Menjadi warganegara Indonesia

Apabila anak tersebut lahir dari perkawinan antara seorang wanita warga negara asing dengan pria warganegara Indonesia (pasal 1 huruf b UU No.62 Tahun 1958), maka kewarganegaraan anak mengikuti ayahnya, kalaupun Ibu dapat memberikan kewarganegaraannya, si anak terpaksa harus kehilangan kewarganegaraan Indonesianya.[16] Bila suami meninggal dunia dan anak anak masih dibawah umur tidak jelas apakah istri dapat menjadi wali bagi anak anak nya yang menjadi WNI di Indonesia. Bila suami (yang berstatus pegawai negeri)meningggal tidak jelas apakah istri (WNA) dapat memperoleh pensiun suami.[17]

2. Menjadi warganegara asing

Apabila anak tersebut lahir dari perkawinan antara seorang wanita warganegara Indonesia dengan warganegara asing.[18] Anak tersebut sejak lahirnya dianggap sebagai warga negara asing sehingga harus dibuatkan Paspor di Kedutaan Besar Ayahnya, dan dibuatkan kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) yang harus terus diperpanjang dan biaya pengurusannya tidak murah. Dalam hal terjadi perceraian, akan sulit bagi ibu untuk mengasuh anaknya, walaupun pada pasal 3 UU No.62 tahun 1958 dimungkinkan bagi seorang ibu WNI yang bercerai untuk memohon kewarganegaraan Indonesia bagi anaknya yang masih di bawah umur dan berada dibawah pengasuhannya, namun dalam praktek hal ini sulit dilakukan.

Masih terkait dengan kewarganegaraan anak, dalam UU No.62 Tahun 1958, hilangnya kewarganegaraan ayah juga mengakibatkan hilangnya kewarganegaraan anak-anaknya yang memiliki hubungan hukum dengannya dan belum dewasa (belum berusia 18 tahun atau belum menikah). Hilangnya kewarganegaraan ibu, juga mengakibatkan kewarganegaraan anak yang belum dewasa (belum berusia 18 tahun/ belum menikah) menjadi hilang (apabila anak tersebut tidak memiliki hubungan hukum dengan ayahnya).[19]

C. Menurut UU Kewarganegaraan Baru

1. Pengaturan Mengenai Anak Hasil Perkawinan Campuran

Undang-Undang kewarganegaraan yang baru memuat asas-asas kewarganegaraan umum atau universal. Adapun asas-asas yang dianut dalam Undang-Undang ini sebagai berikut:[20]
1. Asas ius sanguinis (law of the blood) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan keturunan, bukan berdasarkan negara tempat kelahiran.
2. Asas ius soli (law of the soil) secara terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran, yang diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
3. Asas kewarganegaraan tunggal adalah asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang.
4. Asas kewarganegaraan ganda terbatas adalah asas yang menentukan kewarganegaraan ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Undang-Undang ini pada dasarnya tidak mengenal kewarganegaraan ganda (bipatride) ataupun tanpa kewarganegaraan (apatride). Kewarganegaraan ganda yang diberikan kepada anak dalam Undang-Undang ini merupakan suatu pengecualian.[21]

Mengenai hilangnya kewarganegaraan anak, maka hilangnya kewarganegaraan ayah atau ibu (apabila anak tersebut tidak punya hubungan hukum dengan ayahnya) tidak secara otomatis menyebabkan kewarganegaraan anak menjadi hilang.[22]

2. Kewarganegaraan Ganda Pada Anak Hasil Perkawinan Campuran

Berdasarkan UU ini anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan pria WNA, maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria WNI, sama-sama diakui sebagai warga negara Indonesia.[23]
Anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda , dan setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin maka ia harus menentukan pilihannya.[24] Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 tahun atau setelah kawin.[25]

Pemberian kewarganegaraan ganda ini merupakan terobosan baru yang positif bagi anak-anak hasil dari perkawinan campuran. Namun perlu ditelaah, apakah pemberian kewaranegaraan ini akan menimbulkan permasalahan baru di kemudian hari atau tidak. Memiliki kewarganegaraan ganda berarti tunduk pada dua yurisdiksi.

Indonesia memiliki sistem hukum perdata internasional peninggalan Hindia Belanda. Dalam hal status personal indonesia menganut asas konkordasi, yang antaranya tercantum dalam Pasal 16 A.B. (mengikuti pasal 6 AB Belanda, yang disalin lagi dari pasal 3 Code Civil Perancis). Berdasarkan pasal 16 AB tersebut dianut prinsip nasionalitas untuk status personal. Hal ini berati warga negara indonesia yang berada di luar negeri, sepanjang mengenai hal-hal yang terkait dengan status personalnya , tetap berada di bawah lingkungan kekuasaan hukum nasional indonesia, sebaliknya, menurut jurisprudensi, maka orang-orang asing yang berada dalam wilayah Republik indonesia dipergunakan juga hukum nasional mereka sepanjang hal tersebut masuk dalam bidang status personal mereka.[26] Dalam jurisprudensi indonesia yang termasuk status personal antara lain perceraian, pembatalan perkawinan, perwalian anak-anak, wewenang hukum, dan kewenangan melakukan perbuatan hukum, soal nama, soal status anak-anak yang dibawah umur.[27]

Bila dikaji dari segi hukum perdata internasional, kewarganegaraan ganda juga memiliki potensi masalah, misalnya dalam hal penentuan status personal yang didasarkan pada asas nasionalitas, maka seorang anak berarti akan tunduk pada ketentuan negara nasionalnya. Bila ketentuan antara hukum negara yang satu dengan yang lain tidak bertentangan maka tidak ada masalah, namun bagaimana bila ada pertentangan antara hukum negara yang satu dengan yang lain, lalu pengaturan status personal anak itu akan mengikuti kaidah negara yang mana. Lalu bagaimana bila ketentuan yang satu melanggar asas ketertiban umum[28] pada ketentuan negara yang lain.

Sebagai contoh adalah dalam hal perkawinan, menurut hukum Indonesia, terdapat syarat materil dan formil yang perlu dipenuhi. Ketika seorang anak yang belum berusia 18 tahun hendak menikah[29] maka harus memuhi kedua syarat tersebut. Syarat materil[30] harus mengikuti hukum Indonesia sedangkan syarat formil[31] mengikuti hukum tempat perkawinan dilangsungkan. Misalkan anak tersebut hendak menikahi pamannya sendiri (hubungan darah garis lurus ke atas), berdasarkan syarat materiil hukum Indonesia hal tersebut dilarang (pasal 8 UU No.1 tahun 1974), namun berdasarkan hukum dari negara pemberi kewarganegaraan yang lain, hal tersebut diizinkan, lalu ketentuan mana yang harus diikutinya.

Hal tersebut yang tampaknya perlu dipikirkan dan dikaji oleh para ahli hukum perdata internasional sehubungan dengan kewarganegaraan ganda ini. Penulis berpendapat karena undang-undang kewarganegaraan ini masih baru maka potensi masalah yang bisa timbul dari masalah kewarganegaraan ganda ini belum menjadi kajian para ahli hukum perdata internasional.

3. Kritisi terhadap UU Kewarganegaraan yang baru

Walaupun banyak menuai pujian, lahirnya UU baru ini juga masih menuai kritik dari berbagai pihak. Salah satu pujian sekaligus kritik yang terkait dengan status kewarganegaraan anak perkawinan campuran datang dari KPC Melati (organisasi para istri warga negara asing).

“Ketua KPC Melati Enggi Holt mengatakan, Undang-Undang Kewarganegaraan menjamin kewarganegaraan anak hasil perkawinan antar bangsa. Enggi memuji kerja DPR yang mengakomodasi prinsip dwi kewarganegaraan, seperti mereka usulkan, dan menilai masuknya prinsip ini ke UU yang baru merupakan langkah maju. Sebab selama ini, anak hasil perkawinan campur selalu mengikuti kewarganegaraan bapak mereka. Hanya saja KPC Melati menyayangkan aturan warga negara ganda bagi anak hasil perkawinan campur hanya terbatas hingga si anak berusia 18 tahun. Padahal KPC Melati berharap aturan tersebut bisa berlaku sepanjang hayat si anak.[32]

Penulis kurang setuju dengan kritik yang disampaikan oleh KPC Melati tersebut. Menurut hemat penulis, kewarganegaraan ganda sepanjang hayat akan menimbulkan kerancuan dalam menentukan hukum yang mengatur status personal seseorang. Karena begitu seseorang mencapat taraf dewasa, ia akan banyak melakukan perbuatan hukum, dimana dalam setiap perbuatan hukum tersebut, untuk hal-hal yang terkait dengan status personalnya akan diatur dengan hukum nasionalnya, maka akan membingungkan bila hukum nasional nya ada dua, apalagi bila hukum yang satu bertentangan dengan hukum yang lain. Sebagai contoh dapat dianalogikan sebagai berikut :

“Joko, pemegang kewarganegaraan ganda, Indonesia dan Belanda, ia hendak melakukan pernikahan sesama jenis. Menurut hukum Indonesia hal tersebut dilarang dan melanggar ketertiban hukum, sedangkan menurut hukum Belanda hal tersebut diperbolehkan. Maka akan timbul kerancuan hukum mana yang harus diikutinya dalam hal pemenuhan syarat materiil perkawinan khususnya.”

Terkait dengan persoalan status anak, penulis cenderung mengkritisi pasal 6 UU Kewarganegaraan yang baru, dimana anak diizinkan memilih kewarganegaraan setelah berusia 18 tahun atau sudah menikah. Bagaimana bila anak tersebut perlu sekali melakukan pemilihan kewarganegaraan sebelum menikah, karena sangat terkait dengan penentuan hukum untuk status personalnya, karena pengaturan perkawinan menurut ketentuan negara yang satu ternyata bertentangan dengan ketentuan negara yang lain. Seharusnya bila memang pernikahan itu membutuhkan suatu penentuan status personal yang jelas, maka anak diperbolehkan untuk memilih kewarganegaraannya sebelum pernikahan itu dilangsungkan. Hal ini penting untuk mengindari penyelundupan hukum, dan menghindari terjadinya pelanggaran ketertiban umum yang berlaku di suatu negara.

IV. KESIMPULAN

Anak adalah subjek hukum yang belum cakap melakukan perbuatan hukum sendiri sehingga harus dibantu oleh orang tua atau walinya yang memiliki kecakapan. Pengaturan status hukum anak hasil perkawinan campuran dalam UU Kewarganegaraan yang baru, memberi pencerahan yang positif, terutama dalam hubungan anak dengan ibunya, karena UU baru ini mengizinkan kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak hasil perkawinan campuran.

UU Kewarganegaraan yang baru ini menuai pujian dan juga kritik, termasuk terkait dengan status anak. Penulis juga menganalogikan sejumlah potensi masalah yang bisa timbul dari kewarganegaraan ganda pada anak. Seiring berkembangnya zaman dan sistem hukum, UU Kewarganegaraan yang baru ini penerapannya semoga dapat terus dikritisi oleh para ahli hukum perdata internasional, terutama untuk mengantisipasi potensi masalah.

***

sumber:

Peranan pemuda dalam masyarakat

Sebenarnya siapa pemuda itu? Banyak yang mengatakan pemuda bukan dilihat dari usianya melainkan dari semangatnya. Namun ada juga yang tidak sepaham dengan pernyataan tersebut. Berikut ini adalah beberapa definisi pemuda:

a. Dari segi biologis pemuda adalah berumur 15-30 th
b. Dari segi budaya/ fungsional, pemuda adalah manusia berumur 18/21 keatas yang dianggap sudah dewasa misalnya untuk tugas-tugas negara dan hak pilih.
c. Dari angkatan kerja terdapat istilah tenaga muda dan tua. Tenaga muda adalah berusia 18-22 th.
d. Dilihat dari perencanaan modern yang mengenal tiga sumber daya yaitu sumber daya alam, dana dan manusia. Yang dimaksud sumber data manuasia muda adalah berusia 0-18th
e. Dilihat dari ideologi politis generasi muda adalah calon pengganti generasi terdahulu yaitu umur antara 18-30 atau 40 th.
f. Dilihat dari umur, lembaga dan uang lingkup tempat diperoleh 3 kategori yaitu :
– Siswa usia 6-18th di bangku sekolah
– Mahasiswa uasia 18-25 di perguruan tinggi
– Pemuda diluar lingkungan sekolah/ perguruan tinggi usia 25-30 th

Pemuda memiliki semangat untuk berubah dan kemampuan untuk melakukan perubahan. Hal ini yang menjadi peran paling penting dari pemuda. Jika kita melihat kembali sejarah Indonesia, kita akan melihat begitu dominannya peran pemuda dalam melakukan perubahan. Dimulai dari kebangkitan nasional 100 tahun silam, sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemerdekaan republik Indonesia, lahir dan tumbangnya orde baru serta lahinya orde reformasi. Sejarah mengatakan tanpa pemuda negeri ini tidak akan menikmati kemerdekaan dan terus menerus hidup dalam ketidakadilan.
Pemuda berperan amat besar dalam sejarah pembangunan Negara Indonesia, dalam bermasyarakat pun pemuda memiliki andil yang sangat besar. Pemuda merupakan para penerus bangsa yang akan menentukan bagaimana kedepannya bangsa ini. Para pemuda lah yang akan membangun, menjaga, dan mengembangkan bangsa ini kedepannya. Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara.
Dalam sebuah pidatonya, Soekarno pernah mengorbankan semangat juang Pemuda

“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”

.

Begitu besar peranan pemuda di mata Soekarno, jika ada sembilan pemuda lagi maka Indonesia menjadi negara Super Power.

Pemuda adalah mereka yang akan meneruskan perjuangan dan pekerjaan para pendahulunya. Pemuda adalah harapan bangsa. Walau dengan banyaknya masalah yang harus dihadapi pemuda saat ini, dimulai dengan perbedaan pendapat, perbedaan cara pandang, perbedaan prinsip dan ideologi dengan kaum tua. Hingga dipandang sebelah mata oleh para kaum tua. Pemuda haruslah lebih dari sekedar pengikut para kaum tua. Pemuda harusnya menjadi pemerkasa, menjadi penentu dalam langkah yang harus mereka ambil. Identitas sebagai pemuda bukanlah sekedar pajangan. Mereka yang merupakan pemuda haruslah menjalankan tugas mereka sebagai penerus bangsa. Tanpa adanya kesadaran dari para pemuda untuk memajukan Indonesia, bangsa ini akan terus tertinggal dan tidak akan berkembang.

Dalam ruang lingkup masyarakat, Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan Negara. Namun jika dilihat saat ini, betapa menyedihkan sikap para pemuda, pemuda saat ini sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan ini.
Peranan pemuda dalam sosialisi bermasyarakat sungguh menurun dratis, dulu bisanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah pemuda sekitar. Pemuda sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu.

Inilah tugas pemuda saat ini, yaitu kembali membangkitkan rasa nasionalisme, kembali bersatu untuk memajukan Indonesia seperti apa yang diharapkan dan dicita-citakan oleh para pejuang dan pendahulu kita.

Peranan Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak

Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat sejumlah individu yang masih memiliki ikatan darah dan tanggungjawab antar individunya. Dalam suatu keluarga umumnya terdiri dari anak dan orang tua. Setiap orang tua tentu ingin anaknya kelak akan menjadi pribadi yang berhasil dalam hidup.

contoh gambar makan malam bersama, salah satu moment yang baik untuk saling bertukar pikiran dengan anggota keluarga

Dalam masa pertumbuhan anak peran orang tua sangat penting. Setiap anak mempunyai kepribadian dan keunikan tersendiri. Agar dapat membantu anak berhasil dalam hidupnya, sebelumnya orang tua harus mengetahui potensi yang dimiliki anak. Setelah mengetahui potensi tersebut tentu akan lebih mudah dalam mengembangkannya. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi tersebut, ada 2 hal yang perlu diperhatikan yaitu akademik dan non akademik. Dari sisi akademik, orang tua dapat menyekolahkan anaknya. Disana anak akan diberikan pengetahuan yang memadai.

Contohnya matematika, bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dsb. Sedangkan dari sisi non akademik orang tua dapat mengembangkannya dengan cara memasukkan anaknya ke dalam tempat-tempat les yang mendukung. Contohnya les renang, piano, gitar, dsb.

Pergaulan merupakan interaksi antara beberapa individu yang saling terkait baik dalam lingkungan maupun tujuan. Dari pergaulan tanpa disadari akan terjadi pertukaran informasi dimana informasi tersebut dapat berisi pengetahuan yang bermanfaat. Sehingga terciptalah sosialisasi yang pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Tetapi pergaulan pada saat ini telah banyak penyimpangan terutama dikalangan anak muda. Sekarang pergaulan bebas sudah tidak asing lagi didengar oleh siapapun. Pergaulan bebas adalah pintu menuju penyimpangan yang lainnya.

Hal-hal diatas tersebut sangat perlu diperhatikan oleh orang tua. Jangan sampai sang anak tidak dalam pengawasan orang tua. Terkadang orang tua lupa akan kewajibannya dalam mengawasi perkembangan anak. Hanya karena sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Materi sering menjadi alasan betapa seringnya orang tua bekerja dan meninggalkan anaknya di rumah. Padahal yang dibutuhkan seorang anak bukan hanya materi tetapi juga perhatian. Hal itu yang dapat memicu cara befikir anak untuk melakukan aktifitas yang bisa saja termasuk penyimpangan-penyimpangan diatas.

Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan orang tua untuk menghindari anaknya dari perbuatan menyimpang, salah satunya dengan menjadi teman yang baik sehingga anak merasa nyaman dalam menyampaikan segala sesuatu yang dialami sehari-hari baik itu pengalaman baik ataupun buruk.

Apapun yang terjadi dalam keseharian anak dan anak lakukan, seharusnya orang tua mengetahui dan ikut andil didalamnya. Orang tua harus memiliki kontrol atas apa yang anak lakukan, setidaknya orang tua harus mengetahui apa yang sedang dan akan anak lakukan. Walau demikian, orang tua haruslah memberikan kebebasan kepada anak yang disertai dengan batasan agar anak juga tidak terlampau menyalah gunakan kebebasan yang orang tua berikan.

Sumber : kabar indonesia

Akulturasi

Pengertian

Apakah Anda sebelumnya pernah mendengar atau mengetahui pengertian Akulturasi? Banyak para ahli yang memberikan definisi tentang akulturasi, antara lain menurut pendapat Harsoyo.
Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya
Akulturasi (acculturation atau culture contact) adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Secara singkat, akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan atau lebih sehingga
membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli.

Contohnya, perpaduan kebudayaan antara Hindu-Budha dengan kebudayaan Indonesia, dimana perpaduan antara dua kebudayaan itu tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut.

Oleh karena itu, kebudayaan Hindu-Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu saja. Hal ini disebabkan:
• Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi, sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.
• Kecakapan istimewa. Bangsa Indonesia memiliki apa yang disebut dengan istilah local genius, yaitu kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Sebab terjadinya Akulturasi

Sebab sebab terjadinya akulturasi adalah perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.

Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sosial:
1. tekanan kerja dalam masyarakat
2. keefektifan komunikasi
3. perubahan lingkungan alam

Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya zaman es berujung pada ditemukannya sistem pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.

Akulturasi kebudayaan terjadi karena kebutuhan yang kompleks dalam kehidupan bermasyarakat . Suatu kebudayaan akan menyesuaikan terhadap lingkungan sekitar . Ketika suatu kebudayaan tidak lagi dianggap sebagai sebuah pegangan dalam menyelesaikan suatu masalah , maka factor eksternal akan muncul . Faktor yang muncul dari luar ini adalah pertanda ketidakmampuan sisi internal budaya untuk menyelesaikan suatu permasalahan .
Ketika bangsa Indonesia yang semakin maju ini berkembang , maka kebudayaan pun turu berkembang . Kebudayaan kita mengalami mobilisasi yang sangat cepat . Pengarug globalisasi dan liberalism menjadi salah satu penyebab kejadian ini . Namun tidak dapat dipungkiri , akulturasi kebudayaan yang ada sekarang sebenarnya adalah buah pikiran kita . Hasil pemikiran kita yang dipakai sebagai acuan. Pemikiran yang berdasar pada keinginan akan suatu kesempurnaan . Dan untuk mencapainya , maka tidak segan kita akan mengambil factor dari luar dari kebudayaan kita .
Ketika pencampuran budaya terjadi , maka norma dan nilai ( budaya ) yang kita anut pun akan ikut berubah . Begitu juga dengan perspektif kita dalam melihat segala sesuatu hal . Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kebudayaan yang telah bercampur masih kita anggap sebagai kebudayaan ? . Jika dilihat dari segi evolusi , memang semua kebudayaan harus berevolusi . Evolusi sendiri adalah salah satu cara untuk beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Namun apabila evolusi secara perlahan mengubah budaya secara keseluruhan , apakah pernyataan ini dapat kita benarkan ? .

Di bawah ini beberapa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya suatu proses Akulturasi. Diantaranya:

Faktor Intern (dalam), antara lain:
• Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
• Adanya Penemuan Baru:
1. Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
2. Invention : penyempurnaan penemuan baru
3. Innovation /Inovasi: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh : kesadaran masyarakat akan kekurangan unsure dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat
• Konflik yang terjadii dalam masyarakat
• Pemberontakan atau revolusi

Faktor Ekstern (luar), antara lain:
1. Perubahan alam
2. Peperangan
3. Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi)

Beberapa faktor pendorong perubahan sosial:
1. Sikap menghargai hasil karya orang lain
2. Keinginan untuk maju
3. System pendidikan yang maju
4. Toleransi terhadap perubahan
5. System pelapisan yang terbuka
6. Penduduk yang heterogen
7. Ketidak puasan masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu
8. Orientasi ke masa depan
9. Sikap mudah menerima hal baru.

Contoh Akulturasi

I. Akulturasi Kebudayaan Hindu-Buddha dengan Kebudayaan Indonesia
Masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala telah memiliki kebudayaan sendiri. Proses masuknya budaya Hindu dan Buddha tak lepas dari aktivitas perdagangan yang terjadi di Tanah Air. Indonesia, dengan letaknya yang strategis sering menjadi tempat persinggahan para pedagang.

Kebudayaan Hindu dan Buddha pada umumnya dibawa oleh para pedagang yang berasal dari India. Akibat seringnya terjadi interaksi, maka terjadilah akulturasi kebudayaan Hindu dan Buddha dengan kebudayaan asli nenek moyang kita. Namun, bukan berarti kebudayaan asing tersebut diterima begitu saja oleh masyarakat Indonesia waktu itu, setiap budaya yang masuk mengalami proses penyesuaian dengan budaya asli kita.

Bukti-bukti adanya akulturasi antara budaya Hindu-Buddha dengan budaya Indonesia antara lain:
• Bahasa sanksekerta
yang banyak ditemukan pada peninggalan kerajaan Hindu-Buddha berupa prasasti
• Masuknya agama Hindu-Buddha
yang sampai sekarang masih dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun demikian, jika ditelaah lagi, agama Hindu dan Buddha yang berkembang di Indonesia tidak sama dengan di Negara asalnya, India. Agama Hindu dan Buddha yang berkembang di sini telah mengalami penyesuaian dengan kepercayaan animisme dan dinamisme (agama asli nenek moyang Indonesia).
• Seni bangunan/seni rupa
hasil akulturasi budaya Hindu-Buddha dengan budaya Indonesia tampak dari perpaduan antara bentuk dasar bangunan candi yang berbentuk punden berundak (budaya asli Indonesia zaman Megalitikum) dengan relief dinding candi menggambarkan kisah-kisah ajaran agama Hindu/Buddha, seperti Ramayana, Mahabrata, namun tetap dengan latar belakang suasana kehidupan asli masyarakat Indonesia.
• Sistem pemerintahan
yang beralih dari kepala suku atau ketua adat menjadi raja yang memerintah daerah/kerajaannya turun temurun. Sistem ini merupakan hasil adopsi dari bentuk pemerintahan di India.

II. Akulturasi Kebudayaan Islam dengan Kebudayaan Indonesia
Ajaran Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim yang berasal dari negara-negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, dan Iran. Dengan masuknya ajaran Islam ke Nusantara, budayaIndonesia mengalami proses akulturasi yang kedua. Metode akulturasi kebudayaan yang digunakan adalah:
• Perdagangan
Melalui aktivitas jual beli, pedagang muslim memperkenalkan dan menyebarkan budaya Islam kepada masyarakat Indonesia.
• Perkawinan
Agama Islam disebarkan secara damai tanpa kekerasan, salah satunya melalui ikatan pernikahan. Banyak penduduk lokal yang dinikahi oleh pedagang-pedagang muslim tersebut, sehingga lama-kelamaan terbentuklah keluarga muslim, terutama di kalangan kerajaan. Hal inilah yang menjadi pengasas berdirinya kerajaan Islam di wilayah Nusantara.
• Kesenian
Siapa yang tak kenal dengan tari saman. Tarian khas daerah Aceh ini merupakan salah satu hasil akulturasi budaya Islam dengan budaya masyarakat setempat. Tari saman pada awalnya merupakan permainan rakyat Aceh yang dikenal dengan “Pok Ane”. Karena sangat diminati, seorang Pendakwah bernama Syekh Saman menyisipkan syair yang berupa kalimat puji-pujian kepada Sang Khalik sebagai musik pengiring tarian ini.

Dari definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi sama dengan kontak budaya yaitu bertemunya dua kebudayaan yang berbeda melebur menjadi satu menghasilkan kebudayaan baru tetapi tidak menghilangkan kepribadian/sifat kebudayaan aslinya.